Karena Berita Hidup Menjadi Lebih Terbuka

Tampilkan postingan dengan label BERSAMA MEMBANGUN BOWONG CINDEA YANG SEJAHTERA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERSAMA MEMBANGUN BOWONG CINDEA YANG SEJAHTERA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Januari 2019

SEJUKNYA PEMILIHAN KEPALA DESA RASA PILPRES DI KABUPATEN PANGKEP


HOT_PANGKEP--- BAGI sebagian warga desa di Kabupaten Pangkep, pemilihan kepala desa (pilkades) jauh lebih terasa “gregetnya” ketimbang  pemilihan gubernur (pilgub) atau pemilihan presiden (pilpres) sekalipun. Gambaran itu terlihat dari antusiasme pemilihan dalam setiap gelaran pemilihan kepala desa.
Tidak seperti pilpres, yang kehangatannya hanya terasa dalam perdebatan di televisi, aura politik pilkades amat terasa hingga ke pojok-pojok kampung karena beberapa hal berikut. Kesatu, para calon sangat mengenal satu sama lain, bahkan tidak sedikit yang memiliki hubungan saudara, atau terikat pekerjaan. Paman dan ponakan saling berhadapan sebagau kandidat. Adik dan kakak bersaing memperebutkan posisi nomor satu di Desa,  ataupun kades petahana bersaing dengan salah seorang kepala urusannya sendiri.
Kandidat yang sudah saling mengenal satu sama lain, bahkan terikat hubungan saudara, telah meredam potensi konflik. Lebih dari itu, mereka pun sudah saling mengenal kekuatan dan kelemahan. Uniknya, hal terakhirlah yang membuat kandidat tidak jumawa, tidak merasa selalu hebat dan benar. Kerendahhatian semacam ini yang membuat kontestasi terasa tetap sejuk.
Kedua, pemilih pun sudah tahu hitam putihnya kandidat, sehingga mendatangi bilik-bilik suara dengan penuh keyakinan tentang siapa yang akan mereka pilih. Mereka punya alasan, mengapa memilih A dan mengabaikan B. Ini menyenangkan karena mereka tidak diliputi selubung misteri latar belakang calon. Meski digelar dalam kesederhanaan, namun makna “pesta” demokrasi menemukan arti yang sebenarnya. Setiap orang merasa punya kuasa untuk “ngajenengkeun” (menjadikan sang calon sebagai kades). Inilah berkah demokrasi yang paling genuine, ketika setiap suara punya efikasi (kemanjuran) untuk menghitamputihkan keadaan.
Ketiga, kades dan pemerintahan desa benar-benar terasa hadir dalam kehidupan warga. Betapa tidak ? Semua urusan bermuara di desa. Mulai dari surat pengantar nikah, pengurusan kartu tanda penduduk yang melelahkan itu.
Bukan tidak menyadari jika aparatur desa mulai diincar politisi, lebih-lebih menjelang pemilihan legislative (pileg). Bahkan, tak jarang caleg mengaku memegang tujuh atau delapan kepala desa untuk meloloskannya ke parlemen di tingkat kabupaten.
Menyadari ancaman semacam itu, para pemuda kampung menggelar ronda malam beberapa hari sebelum pencoblosan. Siapa pun yang  keluar malam, atau subuh ditegur bernada gurau, “Apa nu boya rilantang bangngia”. Ditegur semacam itu, orang yang datang ke suatu kampung hanya tersenyum, karena mereka juga tahu itu bukan menuduh dirinya sebagai pelaku serangan fajar, tapi sekedar sama-sama menjaga “kondusivitas” pilkades.
Inilah modal demokrasi yang penting. Calon menyadari keterbatasannya sebagai manusia biasa, pemilih mengenal dan tahu alasan siapa yang akan dipilihnya, dan setiap orang merasa ada hajat bersama yang harus dijaga, sebuah hajat yang memungkinkan setiap orang bisa menyalurkan aspirasinya dengan bebas dan tanpa tekanan.
Dalam kesederhanaannya, masyarakat desa tahu persis apa bedanya mengkritik dan menjelek-jelekan. Mereka pun tahu apa bedanya berempati dan mendorong semangat dengan tindakan merendahkan. Karena itu, tidak sering digelar kampanye rapat umum, namun setiap orang bisa menimbang kelebihan dan kekurangan tiap kandidat secara informal dan faktual. Apa maknanya ? Inilah kecerdasan dalam bentuknya yang paling genuin. Mereka bisa mengapresiasi kemajuan di desanya, seperti mereka mengkritisi hal-hal yang harus diperbaiki.
Mewujudkan proksimitas geografis capres/cawapres atau caleg dengan pemilih hampir tidak mungkin dilakukan karena bentang geografis Indonesia yang amat luas. Yang  mungkin dilakukan adalah menciptakan proksimitas psikologis, bagaimana capres dan cawapres atau caleg terasa hadir dan merasakan apa yang dialami pemilih.
Ada dua cara dalam mewujudkan proksimitas psikologis, capres membawa pemilih ke dalam jalan pikirannya sehingga calon pemilih mengerti betul apa yang dipikirkan dan dirasakan capresnya. Atau sebaliknya, capres berpikir dan merasa dalam cara-cara yang dialami calon pemilih.
Cara pertama hanya akan bisa dilakukan oleh capres dengan karakter yang sangat kuat, kecerdasan yang memesona, dan daya pikat yang berlipat-lipat, yang dalam khasanah politik klasik disebut sebagai kewibawaan. Sebaliknya, cara kedua bisa dilakukan oleh capres mana pun, asal dia mau menyerap pikiran calon pemilihnya dan menyampaikannya dalam cara-cara yang dapat dipahami mereka. Jadi, jika cara pertama harus sekuat matahari, maka cara kedua seperti bulan, yang mampu menyerap dan memancarkan kembali energi yang  diterimanya.
Cara mana pun yang dipilih, kuncinya ada pada derajat interaksi capres/cawapres dengan warga. Karena itu, capres mana pun di dunia senantiasa memperbanyak kontak dengan warganya. Jika tidak ada pesan menarik yang disampaikan, mereka tak akan melewatkan momen bersalaman sebanyak-banyaknya dengan calon pemilih. Karena itu, perpendeklah orasi di podium, dan perbanyaklah bersalaman dan menyapa warga, karena dengan begitu Anda telah menaruh deposit yang penting dalam bilik-bilik suara.***
Tataka: 2019
Share:

Rabu, 13 Maret 2013

BOWONG CINDEA TERCINTA

BERSAMA MEMBANGUN DESA BOWONG CINDEA

Desa Bowong Cindea merupakan daerah yang berada di Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Porpinsi Sulawesi Selatan. Desa Bowong Cindea secara umum merupakan warga suku Makassar dengan bahasa utama yang digunakan adalah bahasa Makassar. Desa Bowong Cindea terdiri dari beberapa kampung diantaranya Kampung Bowong, Ujung, Lolocidi, Ujung Bulu, Baddoka, Barayya, Salekoa, Sappa Bungoro Bonto Panno, Lempangan, Bonto Tangnga, Parang-parang dan Jalan Poros.
Warga Desa Bowong Cindea berjumlah kurang lebih 3000 orang, dengan berbagai jenis latar belakang mulai dari petani, buruh, karyawan swasta, wiraswasta hingga pegawai negeri sipil. Desa Bowong Cindea berkembang seiring dengan perkembangan jaman, hal ini tidak terlepas dari peran masyarakat yang ingin melihat Desa Bowong Cindea Maju dan Berkembang serta mampu bersaing dengan desa-desa lain serta memiliki masyarakat yang sejahtera, aman dan tertib.
Untuk  memajukan Desa Bowong Cindea, maka setiap 5 (lima) tahun dilakukan pemilihan Kepala Desa, dimana secara demokratis masyarakat memberikan hak suaranya untuk memilih calon kepala desa yang dianggap berkompeten serta mampu membawa Desa Bowong Cindea lebih maju serta memberikan kesejahteraan serta pelayanan birokrasi yang prima terhadap masyarakat. Oleh karena itu mari membangun Desa Bowong Cindea bersama "JHONY FOR BOWONG CINDEA 2013".
JHONY FOR BOWONG CINDEA 2013 merupakan suatu bentuk dukungan kepada calon pemimpin Desa Bowong Cindea yang memiliki kreasi tinggi serta bertanggung jawab. beliau adalah SULAEMAN, S.Pd. berikut Profilnya :
  1. Nama Lengkap : SULAEMAN, S.Pd
  2. Tempat/Tanggal Lahir : Bowong, 14 Juli 1985
  3. Pendidikan : S1 Ilmu Pendidikan
  4. Pekerjaan : Guru di MTs. DDI Bw. Cindea, Wartawan Mitra Independen Plus Pendidikan Biro Pangkep, Anggota Lembaga Kontrol Independen Sulawesi Selatan, Pimpinan Jhonyka Print Art Kab. Pangkep.
  5. Alamat : Jl. Andi Burhanuddin No. 9 Pangkajene Pangkep
  6. Email : jhonykanouva@gmail.com

 mari mendukung SULAEMAN, S.Pd sebagai pemimpin di Desa Bowong Cindea dengan Program :
  1. Peningkatan pelayanan birokrasi kepada masyarakat
  2. Pemberdayaan potensi pemuda di bidang olahraga, dan teknik informasi dan komunikasi
  3. Pemerataan bantuan kepada masyarakat 
  4. Pemberdayaan potensi masyarakat di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan industri kecil
  5. Pengelolaan sumber pembiayaan desa yang transparan dan amanah
  6. Peningkatan keamanan dan ketertiban desa
  7. Mempererat jalinan silaturahmi antar masyarakat
  8. Mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan urusan di luar desa
 Dengan SLOGAN

JHONY FOR BOWONG CINDEA "KUNTUNGANNA KALAMANGANNA" 

 10 Alasan untuk memilih SULAEMAN, S.Pd sebagai Kepala Desa Bowong Cindea 
  1. Muda 
  2. Kreatif
  3. Bertanggung Jawab
  4. Bersih 
  5. Pendidik
  6. Pemikir 
  7. Bijaksana
  8. Agamais
  9. Inovatif dan
  10. Bersahaja
Share:

BERLANGGANAN BERITA